Kala itu kamu meminjamiku pena, diminggu pertama perkuliahan dimulai. Kita tak saling kenal saat itu, tapi entah kenapa pena itu mengisyaratakan bahwa aku akan lebih mudah dalam menulis, pena itu menorehkan tinta dengan setahun cerita. Dalam setahun itu banyak cerita bahagia atas penamu.
Memang tintanya sudah habis, penanya pun telah ku kembalikan, “eh tapi aku lupa sudah ku kembalikan belum yah?” Kabarin aku yah, biar aku ganti. Ah tapi rasanya tak penting juga bagimu. Tapi semoga ini penting bagimu: tintanya masih lekat pada lembar-lembar kertas yang ku tulis atas inginku dan juga inginmu, sebenarnya bisa saja ku tulis intrik dalam cerita tersebut agar lebih menarik. Tapi mana mungkin? setahun itu rasanya bahagia sekali.
Tapi kenapa di akhir-akhir bab kamu bilang: “ceritanya kamu lanjutin sendiri yah,” (asal kamu tahu yah, waktu kamu bilang gitu aku tersedak bakso diwarung dekat kampus kita) mana mungkin bisa, tokoh utama sekaligus pengarangnya saja kamu, kan kamu juga yang pernah bilang: “pelan-pelan, ngga harus selesai sekarang kan? asal sama kamu aku yakin selesai kok” wah, bangganya bukan main waktu kamu bilang gitu, dengan semangat penuh yakin akhirnya aku bisa sangat berarti buatmu. ”gumamku” Eh, dugaan ku salah.
Hingga sampai saat itu, yah sudah mungkin memang benar aku harus melanjutkan cerita sendiri, dengan cerita yang lain pula tidak dengan cerita ini, kisah ini memang untukmu, untuk kita, cerita ini masih utuh dalam lembar-lembar naskah yang tidak akan pernah selesai.
Terimakasih telah
meminjami ku pena, banyak hal yang bisa kulakukan dengan pena itu, salah
satunya adalah membuat suatu genre cerita thriller, yah sesuai dengan genre
film kesukaanku tidak bagimu, beberapa hal memang kita banyak berbeda, kamu
dengan genre drama bahagiamu dan aku terjebak dalam cerita thriller yang kubuat
sendiri, tidak akan pernah terpecahkan.

0 Komentar