Pada padang cahaya bulan kita masih sama dalam ingatan. Aku yang masih sibuk bergulat dengan bayang dibalik pohon kelapa itu. Sedang kau yang terus saja asyik dengan mimpi barumu. Kita masih sama dalam ingatan. Tenang mataku seperti kekelawar, sejauh mana ingatan itu tinggal. Aku masih dapat melihatnya, kita masih sama dalam ingatan. Tapi satu hal, memang tak penting bagimu tapi aku tetap akan bercerita;

Bahwasannya setiap malam dibawah pohon kelapa itu dibalik cahaya bulan, aku sering kembali pada ingatan itu.

Kulihat semua reka adegan, ada senyum perempuan dengan bibir tipis dan binar mata yang hampir mengalahkan sinar bulan itu, berdua dengan seorang laki-laki. Perempuan itu bahagia sekali, padahal kulihat tak ada yang menarik dengan lelaki itu, sepertinya tak lebih dari seorang laki-laki yang hanya gemar menulis dan menghabiskan waktu berjam-jam di hadapan laptop, tak bisa bernyanyi, tak bisa bermain gitar. Tapi sungguh, kulihat perempuan itu bahagia sekali. Duduk berdua dengannya ditepi sungai dengan pemandangan bocah-bocah yang riang loncat dari atas jembatan penyebrangan.

Kita masih sama dalam ingatan

Sebenarnya aku ingin sesekali mengajakmu, tapi ku tahu kau takkan ingin, matamu juga takkan sanggup, tidak mungkin pula kubiarkan binar matamu berubah jadi tetes airmata. Jadi biarkan saja aku yang akan sering kembali dalam ingatan

Biar aku saja yang akan terus menungunjungimu dalam ingatan

Kau tetap tidur dalam ingatan dan bangun dengan mimpi baru

Kita masih sama dalam ingatan, doaku masih sama, semoga mimpi-mimpimu akan bangun dipagi hari dengan bahagia selalu dan aku akan tetap berusaha untuk meniduri ingatan, walau itu tidak akan mungkin terjadi

Aku akan tetap sering kembali dalam ingatan yang sama…

Kamar kos, 17 – Maret - 2021