sore itu
Sore itu
Aku tahu dan aku tahu pasti kamu tahu.
sebelum sore yang indah itu tiba, dipagi hari itu aku haru.
kamu tahu ? kamarku yang tak lebih dari ukuran 4 kali 4 itu.
penuh dengan peluh, dengan sadar yang belum utuh,
ku-kira keringat dari tubuh.

Namun, setelah sadarku penuh, ternyata genangan, iya genangan air dari rembasan hujan.
memaksa menerobos dari sela-sela lantai plester. 
kuyup semua menembus setiap pertahanan tubuh, kecuali mata.
karena hakikatnya mata ini memang selalu kuyup, terlebih jika tak sengaja melihat objek yang didalamnya penuh dengan kenang.

Belum sempat genangan itu surut, notifikasi pesan masuk.
keperpustakaan yuk, bung ? tanpa berpikir, aku mengiyakan ajakan tersebut.
kutanggalkan kain pel itu.
toh nantinya juga genangan itu akan surut dengan sendrinya.

Ada hal yang terlupa, dan aku sadar, terburu-buru itu memang tidak pernah baik.
hanya ada waktu tidak lebih dari 20 menit untuk kami mencari buku diantara tumpukan-tunpukan buku di rak itu. Hasilnya nihil, yang ada hanya himbauan untuk segera pergi.

Sama seperti sore yang lampau itu, aku ingat hujan turun deras ketika baru saja sampai.
lagi-lagi aku terlupa, aku tidak sadar bahwa itu adalah isyarat untuk aku segera pergi. 
kembali kuyup.

Namun, berbeda dengan sore itu, sore yang cerah itu, sore sepulang kami dari perpustakaan itu. 
memang buku yang kami cari tidak ketemu, dan juga bukan salah pustakawan tersebut, memang jam kunjung yang telah usai.

Tapi, aku tetap senang sore itu tidak seperti sore lampau itu. 
sore lampau itu berangkat dengan hura namun pulang dengan haru,
sedang, sore itu berangkat dengan haru namun pulang dengan hura.

Terimakasih dengan afeksi sore itu puan, akhirnya aku  pulang dengan keadaan kamar yang telah surut dari genangan.

Sungai duren, 07-Otober-2020