Kata itu erat kaitannya dengan lupa.

Kala itu aku sangat yakin dengan kita.

Namun, ternyata kita adalah bagian dari kata.

Dan pada akhirnya kita adalah dahulu kala.

 

Kini aku sedang mencoba memberi makna baru pada kala.

Dengan aku tak henti-hentinya berdoa.

Aku tak pernah mengutuk dahulu kala.

Apalagi memaksa untuk lupa.

 

Tenang, kita masih selalu ada di dahulu kala.

Diingatanku kita masih sering berputar.

Meski aku mengerti setiap cerita memiliki jeda.

Namun disayangkan dibab berikut, tokoh utamanya memilih untuk melipir.

 

Kadangkala juga, dijembatani secangkir teh hangat dipagi hari.

Aku berkunjung ke dahulu kala.

Aku melihat kau sedang duduk ditepi.

Yah, ditebing bebatuan goa.

 

Dengan jinjit kecil, aku hampiri kau di dahulu kala.

Kau tersenyum, dengan melambaikan tangan.

Seoalah memberi isyarat; mendekatla.

Namun naas; “arrrrggggghhhh dikit lagi padahalkan”

 

Teh-ku tumpah di tendang kenyataan.

Seraya berucap; “sorry-sorry men”

Dengan nada tinggi; “argrgrgrgggghhh, asu koe kon”


Teras kos. 16 – Oktober -2020